Penyesalan
Oleh. Kaisa Fadhilah (Vampire 30)
          Sore ini, langit menangis dengan kencangnya. Sedari tadi aku memandang awan-awan yang bergelung menghitam di kaki Gunung Slamet. Mata pelajaran sedari tadi menghantuiku untuk terus bergumam tentang kapan kelas akan usai. Angin berhembus menggetarkan pepohonan untuk berderak. Udara semakin dingin menggigil seiring dengan derasnya butiran air jatuh ke tanah bumi. Aroma tanah bebas menari menggelitik hidungku untuk membauinya dengan jendela kelas terbuka lebar.
          Berdiri seorang lelaki berpostur tegap di depan kelas, menghadap temannya yang mengeluh akan hujan yang datang di penghujung hari. Wajahnya mungkin tak setampan artis Korea Selatan. Namun, pembawaannya yang berwibawa membuatnya dipilih secara de jure dan de facto sebagai orang nomor wahid di kelas. Digenggamnya beberapa lembar kertas dokumen yang mungkin dititipkan wali kelas kepadanya untuk disampaikan pada kami, sekumpulan orang yang diakunya sebagai rekannya.
          “Para guru sudah memperkirakan bahwa hujan akan terjadi selama seminggu ini. Sementara itu, Penilaian Akhir Semester akan segera dilangsungkan tanpa peduli tentang apakah cuaca akan baik atau buruk. Untuk itu, aku secara pribadi menghimbau agar kalian berhati-hati dalam memperhatikan kesehatan kalian. Jangan sampai kalian jatuh sakit karena perubahan cuaca yang datang. Itu saja.”
          Ucapnya sungguh tegas dan dingin. Ia tidak menatap kami, anggota kelasnya. Ia hanya terpaku pada lembaran kertas yang digenggamnya. Namun, apa peduliku? Aku menyukai hujan yang turun beriringan dengan tenggelamnya mentari di ufuk barat. Aku selalu menantikan saat-saat untuk meloncat, berputar, dan berlarian di atas air hujan yang berkumpul. Aku pun menyukai rambutku yang basah diderai air langit. Segalanya tentang hujan adalah sesuatu yang kusuka.
          Telepon genggamku berdering. Anganku akan hujan yang datang menyapaku terhenti dengan pesan masuk menyeruak di wallpaper telepon genggamku. Ibu. Lagi-lagi mengingatkan untuk tidak bermain air hujan. Entah sudah berapa kali ibu mengirimiku pesan yang sama tiap kali kota ini berniat menimbulkan pelangi. Kupikir aku bukan lagi seorang anak  kecil yang terus-terusan dilarang melakukan banyak hal.
          Tak lagi kata orang-orang menghentikanku kuhiraukan lagi. Setelah berbulan-bulan hujan tak kunjung singgah di Kota Satria, kini aku bebas meluapkan rasa rinduku padanya. Tarian berbahagia membekas jejak di tanah becek bumi. Daun-daun lembab dan burung-burung enggan menyebrangi tetes air yang akan membuat sayap-sayap mereka basah, berkebalikan dengan aksiku. Langit menangis tanpa ada guntur mengejut, membuatku semakin betah melepas rasa yang telah kupendam selama ini.
***
          Sudah seminggu ini hujan benar-benar datang menghampiriku. Mengetuk kaca jendelaku untuk segera bermain kembali. Namun, apa dayaku yang kini terbaring lemah di atas ranjang empuk nan hangatku. Berselimut peluk jaket tebal dan semangkuk sup ayam yang baru saja diangkat dari panci. Aku hanya bisa menatap nanar jendela kamarku tanpa bisa membalas sapa hujan. Titik air langit itu menelusur bingkai kacaku yang berwarna cerah, namun tidak secerah hariku ini.
          Sepi di sini. Hanya ada aku sendirian menunggu rasa sakit  ini segera pergi menjauh sehingga aku bisa kembali bermain dengan hujan. Di tengah renunganku akan kapan lara ini usai, nampak siluet gelap melukiskan sosok seorang wanita datang mendekati daun pintu kamarku yang terbuka lebar. Ibu, wanita nomor satu di rumah ini datang membawakan secangkir teh panas untukku.
“Kamu pasti sedang memikirkan hujan.” Tebaknya. Kupikir tebakannya itu bukanlah tanpa alasan karena aku terus menatap titik hujan membekas. Senyumku lesu teralihkan dari hujan yang berkecamuk di luar.
“Tak ada satupun hal yang salah dari menyukai hujan. Ibu juga menyukai hujan tiap kali ia datang.” Katanya mengawali percakapan kami.
“Namun, kamu harus memperhatikan kapan dan berapa lama kamu boleh bermain dengan hujan.” Lanjutnya.
“Aku hanya melepas rindu, Bu.” Sanggahku.
“Sekecil apapun itu, sayang.” Ucapnya lembut seraya beranjak dan mencium keningku lalu beralih entah kemana.
          Kini aku menyadari bahwa aku membuat kesalahan. Kerinduanku segera  ku lampiaskan setelah berbulan-bulan kota diterpa panas terik dan angin kering. Mungkin memang salahku karena tubuhku tak dapat beradaptasi terlebih dahulu dengan keadaan cuaca yang berubah dengan cepatnya. Ku harap dengan ini, kalian yang membaca ceritaku ini tidak melakukan kesalahan yang sama seperti kesalahanku.

Comments

Popular Posts